Lentera Keluarga 14 Mei

Lentera Keluarga
Tahun C-1. Selasa Paska IV. Pesta St. Matias Rasul.
Selasa, 14 Mei 2019.
Tanggung Jawab Lebih
Bacaan: Kis :15-17.20-26; Mzm 113:1-2.3-4.5-6.7-8; Yoh 15:9-17.

Renungan:
Matias ada bersama-sama dengan Yesus sejak awal sampai Yesus terangkat ke surga. Ia masuk dalam kelompok 70 murid. Pemilihan ini bukan hanya sekedar menggenapi jumlah 12, namun mengemban tugas sebagai komunitas inti para rasul. Matias menjadi pewarta Injil di Yudea, Yunani dan Turki sampai meninggal menjadi martir.
Panggilan dan pilihan Tuhan untuk melayani kadang di luar dugaan kita, bukan karena kita ingin atau memikirkannya atau mengkalkulasikannya. Perasaan yang kadang muncul bisa bermacam-macam, bisa cenderung menolak karena tidak pantas atau menerima dengan kesadaran tanggungjawab. Semuanya itu tergantung dari iman kita kepada Allah. Semakin berusia kita dipanggil semakin untuk bertanggungjawab dan berani mengambil bagian dalam hidup dan pekerjaan Tuhan. Memilih tempat atau tugas perutusan yang aman, menikmati hidup, bisa berkembang, menurut perhitungkan kita baik, kadang menurut kita sungguh baik bagi pertumbuhan pribadi dalam hidup dan pelayanan, tetapi klita justru kurang bertumbuh dalam pandang Allah dalam kedua aspek itu. Sesulit dan serumit hidup dan perutusan yang kena kepada kita, jika itu kita terima sebagai kehendak Allah, akan menjadi kesempatan bagi kita untuk sungguh-sungguh bertumbuh dalam hidup dan pelayanan.

Kontemplasi:
Gambarkan hati, perasaan dan pikiran Matias ketika ditambahkan menjadi bagian dari 12 rasul.

Refleksi:
Bagaimana sikapku, jika Tuhan memberikan kepadaku tanggungjawab yang lebih dalam situasi yang tidak ideal?

Doa
Ya Bapa, pilihanMu selalu membawa kami kepada kebaikan, baik bagi hidup maupun perutusan kami. Amin.

Perutusan:
Bersyukurlah ketika Tuhan mempercayakan tanggungjawab lebih bagi hidup dan perutusan anda (Morist MSF)

Aksi Panggilan di beberapa Paroki

Minggu 12 Mei 2019, menurut kalender liturgi adalah Minggu Panggilan. Di beberapa paroki MSF diadakan aksi panggilan. 

Diantaranya: Sedangguwo (Semarang), Paulus Miki (Semarang), Purwodadi, Biara Nazareth, Banteng (Yogyakarta), Pati dan Rawamangun (Jakarta)

Rm. Eko Riyanto di Paroki St. Paulus - Sendangguwo Semarang
Rm. Nano di Paroki Purwodadi berfoto dengan salah satu anak yang berpakaian romo
Pemberkatan anak di Paroki St. Paulus Miki - Salatiga
Foto bersama
Acara bersama di aula
Paroki St. Yusuf - Pati (bersama Rm. Ipeng)
Paroki Keluarga Kudus - Banteng Yogyakarta
Rm. Wahyudi bersama anak-anak
Bersama para Frater Skolastikat di Biara Nazareth - Yogyakarta
Paroki Rawamangun - Jakarta
Paroki Rawamangun

Lentera Keluarga

Lentera Keluarga
Tahun C-1. Sabtu Minggu Paska III
Sabtu, 11 Mei 2019.
Kuasa Allah Dalam Pewartaan Injil
Bacaan: Kis 9:31-42; Mzm 116:12-13.14-15.16-17; Yoh 6:60-69.

Renungan:
Jemaat bertambah besar, dan Petrus berkeliling mengadakan kunjungan ke arah barat Yerusalem yaitu Lida dan Yope. Kuasa Tuhan menyertai Petrus sehingga melaluinya Allah menganugerahkan kesembuhan bagi Eneas di Lida dan kebangkitan bagi Tabita di Yope. Peristiwa tersebut menjadi pematik perkembangan iman di Lida dan Yope.
Pewartaan Injil tidak berhenti membaptiskan dan memasukkan banyak orang menjadi kristen. Pewartaan Injil dinyatakan dengan sapaan-sapaan iman kepada jemaat; serta keperdulian dan kemampuan untuk menjawab kebutuhan iman jemaat. Kekuatan penginjilan tidak dapat diukur dengan setumpuk program, padatnya agenda pertemuan, suksesnya perayaan akbar, besarnya pencarian dana. Penginjilan adalah tindakan keluar untuk menyapa, berbagi kisah tentang Yesus, perduli kepada kebutuhan orang lain, ikut meringatkan beban kehidupan orang lain, kehidupan komunitas basis yang personal, pelatihan misioner dan perutusan. Dalam setiap keluarga yang kita kunjungi selalu “ada sesuatu” yang diharapkan dari kita yang hanya kita ketahui ketika kita membangun relasi personal kegembalaan dengan mereka. Membiarkan kita “kena” pada pergumulan hidup, ikut mengambil bagian dalam mencari solusi konkret dalam setiap pergumulan. Banyak hal kita tidak mampu dan tidak tahu, tetapi begitu kita bisa masuk ke dalamnya, Roh Kudus akan memberikan jalan keluarga bagi setiap pergumulan jemaat. Dan bukan itu jalan bagi mereka, tetapi juga Roh Kudus akan semakin melengkapi kita dengan kuasaNya.

Kontemplasi:
Gambarkan bagaimana Petrus berkeliling dan membiarkan hidupnya bersentuhan dengan situasi hidup konkret jemaat, terutama pada kebutuhan hidup mereka.

Refleksi:
Apakah sebagai murid Yesus, aku aktif keluar menyapa saudara-saudara dan ikut mengambil bagian dalam pergumulan hidup mereka?

Doa
Ya Bapa, semoga kami semakin berani menjadi pelayanan injilMu yang menyapa, membangun relasi personal, terlibat dalam pergumulan hidup jemaat dan mengandalkan kuasa Roh KudusMu.

Perutusan:
Sapalah tetangga anda, bangunlah relasi dengan saudara-saudara di sekitar anda dan nyatakanlah kebaikan Tuhan melalui perhatian dan kepedulian yang anda berikan.

https://youtu.be/rk8ERxqCZqQ (Morist MSF: www.misafajava.org).

Lentera Keluarga

Lentera Keluarga
Tahun C-1. Jumat Minggu Paska III
Jumat, 10 Mei 2019.
Kuasa Allah vs Radikalisme
Bacaan: Kis 9:1-20; Mzm 117:1-2; Yoh 6:52-29.

Renungan:
Saulus setia pada Allah dan agama Yahudi. Ia “membela”nya dari praktek agama yahudi dari penyimpangan termasuk karena kehadiran orang-orang yang percaya kepada Yesus. Pembelaan itu dilukiskan bahwa hati Saulus “berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh”. Iapun meminta SK dan mengadakan sweeping serta memasukkan “murid-murid Tuhan” ke dalam penjara. Radikalisme sempit dan menghancurkan ini ditundukkan oleh Tuhan. “ Tiga hari lamanya ia tidak melihat, dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.” Kesempatan untuk refleksi atas sikap radikalismenya dan membangun pertobatan.
Sikap Radikalisme destruktif itu dapat muncul dalam agama manapun, ketika kita menghancurkan hidup orang atas nama keyakinan agama dengan alih-alih membela “kehormatan Allah.” Tindakan Allah atas Saulus mengingatkan kita bahwa Allah tidak menghendaki radikalisme yang menghancurkan., Allah menghendaki suatu pemberian diri total yang menghidupkan dan menyelamatkan banyak orang. Allah membutuhkan waktu 3 hari untuk mengubah radikalime Saulus, kita perlu bertahun-tahun untuk mendidik generasi dari generasi untuk menghayati penghayatan hidup agama yang mendalam dan menghidupkan.

Kontemplasi:
Gambarkan pengalaman Saulus ketika mengalami kebutaan selama 3 hari.

Refleksi:
Apakah penghayatan imanku itu menghidupkan dan membawa orang lain pada kebaikan ataukan aku menutup diri dan memandang semua orang lain salah?

Doa
Ya Bapa, semoga kuasaMu bekerja di tengah-tengah kami, supaya kami semakin bertumbuh dalam iman mendalam dan menghidupkan.

Perutusan:
Berdoalan senantiasa supaya Allah membuka banyak orang yang terjerumus dalam radikalisme sempit dapat menemukan jalan Tuhan. (Morist MSF).

%d bloggers like this: