Sun. Oct 20th, 2019

Misafajava

Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF)

Lentera Keluarga 16 Agustus 2019

Lentera Keluarga

Tahun C-1. Pekan Biasa XIX

Jumat, 16 Agustusi 2019. 

 

Marriage is made in heaven but lived on earth

 

Bacaan: Yos 24:1-13; Mzm 136:1-3.16-18.21-22.24; Mat 19:3-12.

 

Renungan:

Pembicaraan Tuhan Yesus dengan orang-orang Farisi mengenai perceraian beda tataran. Tuhan Yesus berbicara mengenai rencana asalo Allah atas perkawinan yaitu “menjadi satu daging yang berhadapan dengan kelemahan/dosa, dimana Musa memberikan “ijin”. Sementara orang farisi berpangkal pada perkawinan sesuai dengan keinginan manusiawi dan menggunakan pertimbangan Musa sebagai “perintah”. Dua titik tolak yang berbeda dan penangkapan yang berbeda.

Kehidupan perkawinan sekarang ini berbeda tantangannya dan beberapa orang melihat bahwa tantangan keutuhan perkawinan itu semakin berat. Ada banyak alasan pasangan suami isteri untuk mengambil keputusan bercerai. Kadang perceraian menjadi piihan berat yang melukakan setelah mengalami proses rekonsiliasi yang panjang dan kadang ada yang mencari-cari alasan untuk menolak berekonsiliasi karena ketidakmampuan untuk mengampuni dan mencintai. Sedih dan sakit ketika kita mendengar dan mendampingi mereka yang mengalami kehancuran dalam hidup perkawinan; mereka yang setia hidup sendiri dan membesarkan anak-anak dalam iman; mereka yang hidup mulai dari nol dengan membawa luka dan cap sosial. Mereka adalah kerabat kita yang tidak pernah lepas dari pertolongan dan belaskasih Allah. 

Perkawinan menjadi satu daging adalah perkawinan yang indah, membahagiakan dan berbuah, ketika dua pribadi pria dan wanita mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh dan menjalaninya dalam rencana Tuhan. Perkawinan adalah rahmat berharga dalam bejana tanah liat yaitu hidup kita sendiri. Rahmat itu harus kita jaga terus menerus dengan upgrade kasih dan pengampunan terus menerus. Kita dipanggil untuk merawat perkawinan selaras dengan jalanNya sampai kita mampu mengasihi seperti Kristus mengasihi dan mengalami kasih seperti Kristus mengasihi kita. Marriage is made in heaven but lived on earth.

Bagi kita religius dan imam, cinta kasih dan kesetiaan suami isteri yang terpancar dari hidup keluarga kita adalah tanda nyata cinta kasih Allah kepada kita, Kristus kepada Gereja yang dapat kita lihat dan rasakan. 

 

Kontemplasi:

Gambarkan sikap Yesus terhadap persoalan perkawinan yang begitu berbeda dengan pola pikir dan sikap orang farisi

 

Refleksi:

Apakah perkawinanku/rangtuaku adalah perkawinan semakin dirasakan sebagai sebuah keindahan?

Sebagai religius dan imam, apa arti cinta kasih dan kesetiaan suami isteri bagiku?

 

Doa:

Ya Bapa, jagalah senantiasa suami isteri untuk bertumbuh dalam kasih dan setia satu sama lain sebagaimana Engkau rencanakan; supaya mereka boleh semakin berubah dan menghayati cinta kasih ilahiMu. 

 

Perutusan:

Rawatlah kesetiaan perkawinan dengan semakin banyak kasih dalam hidup anda sehari-hari

(Morist MSF)

Leave a Reply

%d bloggers like this: