Tue. Dec 10th, 2019

Misafajava

Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF)

RIP – Rm. Y. Byaktasoewarta MSF

Rm. Yosef Byaktasoewarta MSF

Riwayat Rm Yosef Byaktosoewarta

Rm Byaktosoewarto lahir di Semarang pada tanggal 27 September 1937. Ia merupakan anak no 4 dari pasangan Bp Soebyakto dan Ibu Huberta Kadarwati. Anak no 1, 3,5,6 dan 8 telah dipanggil Tuhan dan anak no 6 adalah Sr Bonaventura SFD. Ketertarikannya menjadi seorang imam diungkapkan dengan masuk ke Seminari Menangah Mertoyudan dan kemudian masuk Novisiat MSF dan Skolastikat MSF yang pada waktu itu masih berada di Jl. Supadi Kota Baru Yogyakarta.
Rm Byaktosoewarta mengucapkan Kaul pertama di Yogyakarta pada tanggal 08 September 1961 dan kaul kekalnya pada tanggal 08 September 1964. Ia ditahbiskan imam di Paroki Atmodirono pada 30 November 1967.
Karya-karya Rm Byaktasoewarta cukup banyak berada di tempat pendidikan. Sedikit waktu saja ia bertugas sebagai pastor paroki.

– Tahun 1967 sampai 1969 , ia menjadi Direktur Seminari Berthinianum, Staf Skolastikat dan sekaligus menjadi pastor pembantu di paroki Keluarga Kudus Banteng Yogyakarta.  Pada akhir tahun 1967 ini terjadi perpindahan rumah skolastikat, dari jalan Supado ke Biara Nazareth Yogyakarta sekarang ini.
– Tahun 1970, Rm Byakto mendapat tugas untuk merintis lahirnya Paroki Rawamangun bersama dengan Rm Notosaputra.
– Tahun 1971, ia menjadi pastor pembantu di Paroki Rawamangun, Jakarta untuk 3 tahun dan kemudian kembali menjadi Direktor Seminari Berthinianum. Dan selang beberapa bulan, ia ditunjuk menjadi Rektor Skolastikat Biara Nazareth sampai tahun 1973.
– Tahun 1973-1974, Rm Byaktosoewarta mendapat kesempatan untuk berkunjung  Belanda dan Amerika Utara. Kesempatan itu juga dipakainya untuk belajar mengenai Moral.
– Sepulang dari Amerika Utara, tahun 1974 Rm Byakto ditunjuk menjadi Asisten 3 Propinsial  sampai tahun 1976 dan tahun 1974 itu pula ia sekaligus menjadi Pastor Paroki Keluarga Kudus Banteng dan Rektor Skolastikat sampai tahun 1980.
– Tahun 1980 Rm Byakto ditugaskan menjadi pastor paroki di Keluarga Kudus Atmodirono Semarang sampai 1983
– Tahun 1983 Rm Byakto ditunjuk menjadi Ekonom Propinsi sampai 1986.
– Tahun 1986-1988 : ia mendapat tugas sebagai magister Novisiat di Biara Kana dan 1988 – 1992 ia menjadi Socius Magistri di tempat yang sama sekaligus merangkap sebagai Ekonom Propinsi.
– Tahun 1992-1994 Ia kembali lagi menjadi pastor kepala di Atmodirono.
– Mulai tahun 1994-2002 Rm Byakta bertugas sebagai pastor Paroki di Keuskupan Banjarmasin. Selama di Keuskupan Banjarmasin, Rm Byakto pernah menjadi pastor paroki Katedral, Pastor Paroki Veteran dan VIkjen Keuskupan.
– Tahun 2002- sekarang: karena searangan Stroke, Rm Byakto tinggal sebentar di di Skolastikat MSF dan tahun 2005 mulai tinggal di Biara Propinsial.
– Tanggal 26 September Rm Byakto dirawat di RS Elisabeth – sekarang.

Dari para sahabat, Rm Byakto dikenal sebagai pribadi yang sangat baik, murah hati, sederhana, santun dan kebapakan. Ia menjadi tempat berlabuh bagi banyak orang dan para anggota MSF yang lain untuk berbicara. Ia sangat tekun dalam membaca, doa, rosario, brevir dan Perayaan Ekaristi.

Ia mengungkapkan “ Hidup dijalani sesuai panggilan sebagai imam dan religius MSF, tidak usah aneh-aneh atau neko-neko, pastilah berkat-Nya selalu melimpah dan Dia menyempurnakan semuanya.

Dalam 50 tahun imamatnya ada beberapa kutipan menarik yang diungkapkan oleh Rm Byakto:
– Satu hal yang saya tahu, bahwa saya sakit, sakit tetaplah sakit, mau apa lagi? Harus diterima dan selama Tuhan masih menganugerahi nafas kehidupan, ya disyukuri saja. Kendati sulit, saya mencoba untuk tetap menenangkan diri supaya tidak kekanak-kanakan, melakukan aktivitas-akitivitas yang masih terjangkau.
– Saya teringat satu tokoh yang menjadi teladan dan pelindung hidup saya; yaitu St Yusup pekerja. Sejak dulu saya berusaha untuk meniru teladan keutamaannya. Saya mau mengikuti Tuhan Yesus seperti St Yusup, tidak perlu harus dilihat orang tetapi nyata menjadi berkat. Pribadi yang sederhana (bdk. Mat. 1:19A), tidak banyak berbicara, seorang pribadi yang hidupnya tersembunyi di Nazareth. Santo Yusuf tidak menyombongkan diri, orang yang rendah hati dan mengutamakan orang lain. Dalam bahasa Jawa dikatakan ora perlu ngetokake awake dhewe. Hal ini mirip dengan sikap Bunda Maria ketika menerima kabar sukacita; (Luk 1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Mu.”).

Lima Puluh Tahun Yang Lalu Kau Memiliki Kenangan Yang Tak Mungkin Kau Lupakan

(By Thomas Kumoro)

Kenangan yang membahagiakan, kenangan yang membanggakan.
Kenangan yang mengundang persahabatan.
Kenangan yang menghias kehidupan.
Waktu demi waktu mengantar ke pestamu.
Pengalaman demi pengalaman Mendampingimu ke seluruh perjalanan, meski ada kalanya terasa pilu
Fakta mengantar kesetiaanmu, dinamika saksi hidupmu
Lima puluh tahun bukan sembarang waktu.

Terhias oleh peristiwa yang macam ragam.
Menuju titik sentral perhatian tahbisan menjadi imam.
Anugerah di luar kodrat. Imam tarekat, imam umat.
Kau sadari bahwa anugerah itu sangat bermartabat.
Sekalipun secara kodrat terasa berat,
tapi tugas itu sungguh mulia.
Biarpun ada kalanya terasa hampa. Nggak apa-apa.
Pelayanan yang penuh tantangan, penuh pengurbanan.
Tapi kau hadapi dengan percaya diri tanpa memperhitungkan untung rugi.
Kini engkau berpesta dalam keadaan tanpa daya.
Tata lahir menderita, tapi batin boleh bahagia.
Tubuh boleh lemah, tapi hati tetap gagah.
Kini konfratermu berbela rasa, ikut bahagia.
Akupun banyak merasa pedasnya lombok dan asinnya garam.
Selamat pesta Mas Konfraterku juga Romoku.
Tuhan memberkati dan menyertaimu selalu.

Leave a Reply