Mon. Nov 18th, 2019

Misafajava

Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF)

Balai Budaya Rejosari

Sejarah Singkat
Balai Budaya di Rejosari, Kudus mulai dibangun oleh para imam MSF yang berkarya di daerah pantura Jawa Tengah timur tahun 2012. Balai berupa bangunan joglo dan ruang publik lainnya ini dibangun sebetulnya buah kerjasama antara Keuskupan Agung Semarang, kongregasi MSF dan paroki Kudus.

Joglo dipilih karena produk budaya arsitektural ini memungkinkan bertumbuh dan berkembangnya dialog kehidupan dan pengembangan budaya pantura. Inilah ruang publik yang terbuka bagi siapapun yang berkehendak baik dalam pengembangan kebudayaan dan membangun paseduluran. Pembangunan Balai budaya sendiri melibatkan Sedulur Sikep, masyarakat Rejosari warga Kudus serta institusi lain dengan semangat paseduluran dan gotong royong. Dibangun di antara pegunungan Muria dan Kendeng yang jauh dari hiruk pikuk kota, balai ini diharapkan menjadi ruang keheningan dan peristirahatan jiwa dimana para peziarah kehidupan bisa mengalami dialog kehidupan, kedekatan dengan Tuhan, sesama dan semesta.

Di tengah goncangan kebudayaan populer sekarang ini, kehadiran Balai Budaya di Rejosari ini diharapkan memberi warna pantura menjadi “cultural village”. Dibangun pula area permainan outbond. Kini tempat ini telah digunakan untuk latihan gamelan, tari, tempat belajar anak-anak serta aneka perjumpaan lainnya, termasuk pengembangan budaya pertanian agar rejo desane dan lestari budayane.

VISI

  1. Tersedianya balai untuk perwujudan dialog budaya, dialog kemanusiaan dan dialog agama sehingga masyarakat rejo (sejahtera) dan damai dalam kebhinekaan
  2. Terbangunnya paseduluran yang menyuburkan kehidupan harmonis dengan Tuhan, sesama dan semesta.
  3. Berkembangnya pusat kebudayaan pantura dimana tradisi dan kebudayaan lokal digali, diekspresikan dan disenangi.

MISI

  1. Mengembangkan budaya lokal dan memfasilitasi komunitas seni melalui Balai Budaya.
  2. Mendorong partisipasi masyarakat dalam menghidupkan dan membangun budaya dialog bagi pengembangan masyarakat religius inklusif.
  3. Membuat pelatihan di bidang pertanian yang memungkinkan alam semesta terjaga keutuhannya dan masyarakat sejahtera kehidupannya.

Tentang Balai Budaya
Istilah balai dalam masyarakat Jawa menunjuk pada amben, omah dan pendopo. Amben adalah suatu papan lebar yang terbuat dari bambu atau kayu dan berfungsi sebagai tempat beristirahat dan bercengkerama antar anggota keluarga. Di balai itulah, orang beristirahat sesudah lelah bekerja dan berbincang mengenai hidup dengan segala problematikanya (masalah rumah tangga, sosial kemasyarakatan, politik kampung, pertanian dsb).

Sementara omah adalah tempat orang kembali “mulih” setelah segala aktivitas sosialnya. Mulih ke rumah berarti kembali ke ruang privat dimana segalanya di”pulih”kan dan energi disegarkan kembali. Energi itu diperoleh karena persekutuan sakral antara laki-laki dan perempuan, tiwikrama antara yang imanen dan transenden, antara yang lahiriah dan batiniah. Pasangan hidup disebut semah karena mereka adalah serumah, satu energi. Sedangkan pendopo menunjuk pada tempat yang luas dan terbuka tempat orang nyedulur menerima tamu, bocah dolanan, bahkan orang melakukan aktivitas seni.

Di tempat publik, kita pun menjumpai balai. Ada balai desa, balai pengobatan dsb. Inilah tempat orang menerima tamu serta berkegiatan sosial. Dalam semangat peseduluran dan kekeluargaan, orang bertukar informasi, pendapat, wawan hati atau berkegiatan bersama. Inilah wajah kultural desa kita.

Istilah budaya menunjuk pada sistem dinamis yang secara sosial diperlukan dan ide-ide yang secara sosial disharingkan menurut kelompok manusia yang saling berinteraksi dan beradaptasi pada lingkungan fisik, sosial dan ideasional. Mengingat kultur itu dinamis dan berubah, kita di satu sisi menjaga apa yang memang sudah menjadi tradisi masa lampau namun juga mengembangkan sesuai perkembangan jaman.

Rejosari rupanya bukan hanya menunjuk sebuah desa di kecamatan Dawe, kabupaten Kudus. Rejosari bahkan bisa dikatakan suatu impian kesejahteraan yang ingin dicapai bersama. Tersusun dari dua kata (rejo yang berarti subur, makmur; dan sari yang berarti pokok, kenthos, inti pati), nama ini mengingatkan kita pada konsep kesejahteraan seutuhnya yang biasa dirumuskan gemah ripah loh jinawi, tata tentrem, karta raharja, subur kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku. Kalau yang inti, pokok dan sari pati kehidupan manusia dan alam semesta ini rejo, makmur, sejahtera pasti apa yang kelihatan juga sejahtera. Apa yang kehihatan ini menjadi cerminan dari yang batiniah. Kalau yang inti dari kehidupan ini sejahtera, maka harmoni dengan yang ilahi, dengan sesama, dengan diri sendiri dan semesta pasti akan terjamin.

Dari istilah-istilah itu, bisa kita ringkas bahwa balai budaya ini merupakan suatu balai atau mandala kaweningan, ruang keheningan bagi siapapun yang datang mencari signifikansi makna hidup. Dalam keheningan itulah, para peziarah kehidupan bisa menemukan yang kenthos, agar bisa membangun dialog rohani; suatu “deeply praying community”. Di sinilah orang mulih untuk menyegarkan energi kehidupan mereka.

Selain itu, balai budaya ini merupakan suatu mandala pasrawungan dan paseduluran. Inilah ruang perekat yang terbuka untuk membangun perjumpaan, paseduluran sejati dengan siapapun yang berkehendak baik (building bridges). Paseduluran itu harmonis bahkan saling menyuburkan bila dibangun di atas dasar relasi harmonis dengan Tuhan, sesama dan semesta. Kini nilai-nilai perekat kehidupan kita ditantang beragam nilai perusak. Nilai ketuhanan mendapat tantangan sekularisme, fundamentalisme, terorisme atas nama agama, diskriminasi, agama sebagai kendaraan politik. Nilai kemanusiaan mendapatkan tantangan dehumanisasi dalam segala bentuknya, pembodohan, kekerasan, pelanggaran HAM, “budaya kematian”. Nilai persatuan, kerakyatan-musyawarah dan keadilan sosial juga mendapatkan tantangannya yang luar biasa.

Balai budaya ini juga menjadi tempat formasi dialog. Disebut tempat formasi karena ini merupakan ruang bersama untuk pengembangan dan pembinaan dialog kehidupan. Dialog yang dimaksud adalah dialog budaya, dialog kemanusiaan dan dialog agama. Ini juga tempat pembinaan pelayan masyarakat dan tokoh transformasi yang diharapkan mewujudkan sisi profetis yang melampaui batas-batas.

Meskipun gerakan sederhana, ada sisi profetisnya yang ingin kami sampaikan karena ruang publik budaya seperti ini semakin tergerus oleh pertimbangan ekonomis (option for economy). Pabrik dan perumahan menjamur namun ruang publik terabaikan. Kegiatan berkesenian dan berkebudayaan sudah semakin menjadi elit dan profit sehingga menyisakan sedikit ruang bagi mereka yang kecil. Masyarakat semakin mengarah ke me-centric society. Balai budaya di Rejosari ini dibangun sebagai ruang publik yang terbuka bagi siapapun yang berkehendak baik yang mencintai kebudayaan dan mengembangkannya. Inilah ruang publik untuk ndudhug, ndudhah lan ndandani kabudayan. Ini juga ruang terbuka bagi mereka yang haus mencari makna kehidupan dalam keheningan (peristirahatan), dan melestarikan keutuhan kehidupan. Kini kehadiran balai seperti ini kami pandang signifikan mengingat ruang publik semakin sedikit, ruang eksplorasi kebudayaan dikomersialisasikan dan banyak komunitas seni kesulitan ruang pagelaran.

Dan akhirnya balai budaya ini juga merupakan pelayanan konkrit untuk pengembangan tradisi atau “budaya pertanian”. Bidang ini dipilih sebagai wujud kecintaan alam khususnya tanah, belajar membangun kedaulatan pangan, serta kepedulian pada mereka yang membutuhkan sekaligus mewujudkan “self-support community”.

Informasi lebih lanjut: balaibudaya.org