Sun. Oct 20th, 2019

Misafajava

Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF)

Skolastikat

Informasi lebih lanjut klik: http://skolastikatmsf.com

Sejarah Skolastikat MSF – Biara Nazareth di Jalan Kaliurang Km. 7,5 Yogyakarta tidak bisa dipisahkan dari karya misi MSF di Indonesia. Pada tanggal 27 Februari 1926, tiga misionaris Keluarga Kudus tiba di Laham, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Enam tahun kemudian, tepatnya tanggal 26 Februari 1932, tiga imam MSF tiba di Semarang, Jawa Tengah.

Karya awal MSF di Indonesia, khususnya di Jawa, ini senyatanya bersemi dan berkembang. Empat tahun kemudian, yakni pada tahun 1936, seorang pemuda dari Temon, Wates, Yogyakarta, yakni Dionisius Adisoedjono, masuk menjadi calon MSF. Inilah benih panggilan MSF pertama yang tumbuh dari putera pribumi.

Adalah Skolastikat MSF di Oudenbosch, Belanda, yang menjadi tempat awal pendidikan para skolastik bagi putera Jawa sekaligus putera Indonesia yang ingin menjadi misionaris Keluarga Kudus. Setelah setahun menjalani masa novisiat di Nieuwkerk, pada tahun 1937, Adisoedjono menjalani tahun filsafat dan teologi di Oudenbosch. Pada tahun 1942, ia menyelesaikan studinya dan ditahbiskan menjadi imam. Selanjutnya Theodorus Widagdo menyusul. Setelah menyelesaikan pendidikan di seminari menengah di Wijkaan Zee, Widagdo menjalani masa skolastiknya di Oudenbosch dari tahun 1953 sampai 1958. Angkatan ketiga skolastik Indonesia di Oudenbosch adalah F.X. Pradjasuta, Martinus Dotohendro dan Hendrawarsita. Mereka masuk Oudenbosch pada tahun 1954 dan menerima tahbisan di Roma tahun 1958. Kemudian pada tahun 1955 menyusul angkatan C. Adiwidjaja dan Ign. Handayaseputra serta Hendrikus Djajapoetranta. Pada tahun 1958 studi para frater MSF Indonesia tersebut dilanjutkan di Via di Villa Troili Roma, Italia.

Benih panggilan MSF di Indonesia menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Maka mulai ada pemikiran serius untk mendirikan rumah pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1956 Novisiat MSF untuk pertama kali dibuka di Pastoran Pati. Selanjutnya, sehubungan dengan pembukaan novisiat ini, mulai dipikirkan perlunya pendirian skolastikat sebagai tempat pendidikan filsafat dan teologi bagi frater-frater MSF. Pendirian skolastikat di Indonesia ini juga didorong oleh kenyataan adanya kesulitan untuk mengirim calon imam ke luar negeri sebagai akibat hubungan politik Indonesia dan Belanda yang pada waktu itu memanas.

Pimpinan Regional MSF Jawa pada waktu itu Rm. Josef van Beek bersama dua asistennya Rm. Adisoedjono dan Rm. De Koning, serta Rm. Ant. Van der Valk, memutuskan untuk mendirikan skolastikat di Yogyakarta, tepatnya di dua buah rumah di Jl. Supadi 15-17. Lokasi ini dipilih dengan 2 alasan: pertama, dekat dengan tempat perkuliahan filsafat dan teologi, yakni Seminari Tinggi Jalan Code Yogyakarta; dan kedua, kedua rumah yang bersebelahan tersebut dapat dibeli dan dapat menampung jumlah skolastik (dan novis) pada waktu itu. Akhirnya, pada tanggal 8 September 1957, secara resmi dibuka skolastikat di Regio Jawa dengan nama Skolastikat MSF Santo Agustinus – Jl. Supadi 17, Yogyakarta.

Rektor pertama Skolastikat MSF di Jalan Supadi adalah Rm. Ant. Van der Valk (1957 – 1959). Selanjutnya adalah Rm. Nicolaas Lengers (ketika Rm. Valk cuti, Januari – November 1959), Rm. Antonius Verlaan (1960 – 1963), Rm. Josef van Beek (1963 – 1966) dan Rm. F.X. Pradjasuta (1966 – 1968).

Pada masa periode ini, ada sejumlah kesulitan pokok yang dihadapi. Pertama, belum tersediaanya tenaga formator, sehingga pada masa itu rektor sekaligus merangkap ekonom dan magister. Baru pada tahun 1960, ada tenaga tambahan untuk menjadi magister. Kedua, ruangan untuk para frater sangat sempit, karena satu kamar terpaksa disekat menjadi tiga bilik. Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan sangat terbatas. Untuk 17 frater hanya tersedia 1 mesin ketik. Demikian juga fasilitas olahraga, satu lapangan digunakan untuk bermain bola voli dan bulutangkis.

Berhubung kondisi Skolastikat Jalan Supadi tidak memadai lagi, pada tahun 1961 dicari tanah untuk gedung skolastikat berjangka panjang. Akhirnya, didapatlah tanah yang luas di tepi Jalan Kaliurang Km. 7,5, di Dukuh Banteng, Kelurahan Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman. Lahan tanah ini berada tidak jauh dari Kompleks Seminari Tinggi Santo Paulus.

Pada pesta Pelindung Kongregasi, Santa Perawan Maria La Salette, 19 September 1963, Superior Regionalis, Rm. A. Verlaan MSF meletakkan batu pertama pembangunan gedung. Setelah kurang lebih lima tahun, pembangunan skolastikat yang baru ini selesai. Pada tanggal 15 Desember 1967 keluarga besar Skolastikat di Jalan Supadi pindah ke Banteng dengan dipimpin oleh Superior Regionalis. Bangunan besar ini diberi nama Wisma (selanjutnya Biara) Nazareth. Nazareth adalah tempat hidup Keluarga Kudus. Pemberian nama ini kiranya sejalan dengan maksud Pater Pendiri, Jean Berthier, yang telah menamai Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus dan memberikan Keluarga Kudus sebagai teladan. Teladan itulah yang mendasari, mewarnai dan memberi inspirasi bagi penghayatan spiritualitas di tempat pendidikan ini.

VISI:

Membina manusia yang sepenuhnya manusiawi, kristiani, religius, dan imami, dalam suasana pendidikan yang bermutu tinggi dan sesuai tuntutan zaman, agar mereka menjadi cakap sesuai bakat mereka dan bersama para konfrater mereka dapat mengambil bagian dalam pengutusan misioner Kongregasi (K. 81 & 82).

MISI: 

  1. Para skolastik mampu berkembang dalam kehidupan sebagai biarawan MSF dan calon imam (PPB 2005 No. 61).
  2. Para skolastik semakin mampu menghayati hidup bersama dalam komunitas, menghayati ketiga nasehat Injili, dan mengembangkan kerasulan khusus MSF (PPB 2005 No. 62).
  3. Para skolastik semakin memiliki kemampuan untuk melayani Gereja dan masyarakat sebagai imam (PPB 2015 No. 63).

Kurikulum

  1. BIDANG KEPRIBADIAN: Membantu skolastik untuk bertumbuh dalam kedewasaan pribadi sebagai calon imam-religius MSF.
  2. BIDANG HIDUP ROHANI & KAUL-KAUL: Membantu skolastik bertumbuh dalam kedewasaan hidup rohani dan menghayati hidup sebagai biarawan melalui penghayatan kaul secara dewasa.
  3. BIDANG HIDUP BERSAMA: Membantu skolastik menghayati dan mengembangkan kemampuan hidup bersama sebagai salah satu pilar hidup sebagai biarawan MSF.
  4. BIDANG BUDAYA, INTELEKTUAL & SOFT SKILL: Memfasilitasi skolastik agar bisa belajar di Fakultas Teologi Wedabhakti (FTW) Yogyakarta dengan baik dan melengkapi apa yang belum ada di Fakultas Kepausan di Indonesia tersebut.
  5. BIDANG PASTORAL – KERASULAN: Membantu skolastik belajar berpastoral dan menghidupi ketiga kerasulan MSF.

Spiritualitas

Pater Berthier memilih Keluarga Kudus Nazareth sebagai teladan hidup bagi seluruh anggota Kongregasinya. Teladan itu jugalah yang mendasari, mewarnai dan memberi inspirasi bagi penghayatan spiritualitas di tempat pendidikan ini.

Dalam Keluarga Kudus, Putera Allah telah menjadi manusia dan bertambah besar sebagai utusan Bapa untuk memancarkan cahaya Injil. Dalam Keluarga Kudus, jawaban manusia atas anugerah Allah mendapatkan ungkapannya yang paling jelas. Dalam Keluarga Kudus, Yesus dipersiapkan menjadi misionaris Bapa. Dengan demikian, Keluarga Kudus menjadi suri teladan bagi para anggota Misionaris Keluarga Kudus: Suatu amanat agar semua anggota mewujudkan kesatuan persaudaraan dalam Kristus dan sekaligus suatu penugasan untuk menuntun semua orang masuk ke dalam satu Keluarga Bapa.

“Rumah Nazareth adalah sekolah di mana kita mulai memahami kehidupan Yesus, yang merupakan sekolah dari Injil. Di sini Anda akan belajar untuk mengamati, mendengarkan, untuk merenungkan dan menembus makna begitu dalam dan begitu misterius untuk manifestasi dari Anak Allah yang sederhana, rendah hati dan indah.Mungkin kita juga belajar, hampir tanpa disadari, untuk meniru.

Di sini kita belajar metode yang akan memungkinkan kita untuk tahu siapa adalah Kristus. Di sini kita menemukan kebutuhan untuk mengamati kerangka nya tinggal di antara kita: yaitu, tempat, waktu, adat istiadat, bahasa, ritual sakral, semuanya sebenarnya apa yang Yesus digunakan untuk menunjukkan dirinya kepada dunia.

Semuanya di sini memiliki suara, semuanya memiliki arti. Di sini, di sekolah ini, tentu saja kita memahami mengapa kita perlu menjaga disiplin spiritual, jika kita mengikuti doktrin Injil dan menjadi murid Kristus. Oh! bagaimana dengan senang hati kami akan kembali ke anak-anak dan menempatkan kami dalam hal ini sekolah rendah hati dan luhur dari Nazareth! Bagaimana dengan sungguh-sungguh kami ingin memulai, dekat dengan Mary, untuk belajar ilmu sejati kehidupan dan kebijaksanaan superior kebenaran ilahi! Tapi kita hanya melewati dan kita perlu untuk meletakkan keinginan untuk terus belajar, di rumah ini, tidak pernah menyelesaikan kursus pelatihan untuk kecerdasan Injil. Namun kita tidak akan meninggalkan tempat ini tanpa dikumpulkan, hampir sembunyi-sembunyi, beberapa peringatan singkat dari rumah Nazareth.

Pertama, mengajarkan kita diam. Oh! jika ia terlahir kembali di kita harga keheningan, suasana yang indah dan semangat penting: sementara kita terpana oleh begitu banyak suara, suara dan suara-suara gemilang dalam kehidupan panik dan kacau waktu kita. Oh! keheningan Nazareth, mengajarkan kita untuk menjadi tegas dalam pikiran yang baik, berfokus pada kehidupan interior, siap untuk memahami dengan jelas inspirasi rahasia Allah dan nasihat dari guru sejati.Mengajarkan kita bagaimana penting dan perlu adalah pekerjaan persiapan, studi, meditasi, interioritas hidup, doa, bahwa Allah sendiri melihat secara rahasia.

Di sini kita memahami cara hidup dalam keluarga. Nazareth mengingatkan kita apa keluarga adalah, apa persekutuan kasih, keras dan sederhana keindahannya, karakter suci dan tidak bisa diganggu-nya; kita untuk melihat bagaimana pendidikan manis dan tak tergantikan dalam keluarga, mengajarkan kita fungsi alami dalam tatanan sosial. Akhirnya, kita belajar pelajaran dari pekerjaan. Oh! rumah Nazareth, rumah Anak tukang kayu! Di sini terutama kita ingin memahami dan merayakan hukum, beberapa parah tetapi penebusan dari usaha manusia;Berikut memuliakan martabat pekerjaan sehingga dirasakan oleh semua; ingat di bawah atap ini bahwa pekerjaan tidak dapat menjadi tujuan itu sendiri, tetapi menerima kebebasannya dan keunggulan, tidak hanya oleh apa yang disebut nilai ekonomis, tetapi juga oleh apa yang menarik untuk tujuan mulia; Akhirnya di sini kami ingin menyapa para pekerja dunia dan menunjukkan kepada mereka model besar, saudara ilahi mereka, nabi dari semua yang menjadi perhatian mereka, bahkan Kristus, Tuhan kita hanya menyebabkan.” (Dari “Pidato” Paulus VI, Paus (Wacana di Nazaret, 5 Januari 1964)).

Alamat :
Jl. Kaliurang Km. 7,5 Yogyakarta 55581 Indonesia

 

Telepon : (62) (274) 885702

%d bloggers like this: