Sun. Oct 18th, 2026

MSF Jawa

Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF)

Budaya Adil Terhadap Sesama dan Semesta

Budaya Adil Terhadap Sesama dan Semesta

Studi Budaya Rukun Pati

 

Sukolilo menawarkan persaudaraan tanpa sekat. Gagasan ini terbukti pada Senin 19 Februari 2024. Dalam suasana persaudaraan, para romo rukun Pati bertemu dengan para Sedulur Sikep di Omah Kendeng (Rumah Kendeng). Pada kesempatan itu, para romo rukun Pati menjalin persaudaraan dengan Sedulur Sikep sekaligus belajar bersama tentang budaya yang mereka hidupi.

Acara ini dimulai pada pukul 09.30. Setelah diantar perkenalan oleh Romo Purna, Mas Gunritno – tokoh Sedulur Sikep menjelaskan siapa itu Sedulur Sikep. Mas Gunritno menegaskan bahwa Sedulur Sikep adalah mereka yang menghayati nilai-nilai luhur dan warisan perjuangan keadilan dari Mbah Samin Suro Sendiko.

Menurut penuturan Mas Gunritno, pada tahun 1917 Mbah Samin bersama dengan 9 saudara lainnya ditangkap oleh Belanda karena menolak membayar pajak. Penolakan membayar pajak itu adalah bentuk perlawanan rakyat atas ketidakadilan pemerintah. Saat itu, pemerintah kerajaan bekerja sama dengan pemerintah Belanda dalam pengolahan tanah sementara jeritan rakyat karena pajak terabaikan. Atas dasar itu Mbah Samin bersama saudara-saudaranya melakukan perlawanan. Setelah ditangkap, semangat juang Mbah Samin tidak mati. Semangat juang itu dilanjutkan oleh saudara-saudara yang lain.

Mas Gunritno mengatakan bahwa memperjuangkan keadilan tidak berhenti pada masa kolonial. Sedulur Sikep sampai sekarang masih konsisten dengan semangat memperjuangkan keadilan sesuai konteks yang dihadapi. Di era orde baru, para Sedulur Sikep memperjuangkan hak untuk menghayati iman kepercayaan mereka. Perjuangan itu bahkan berlanjut sampai jaman reformasi. Pada masa orde baru, mereka menolak membuat KTP karena salah satunya harus menuliskan agama. Sementara itu, agama yang diakui di Indonesia hanyalah 6 (tanpa menyebutkan penghayat kepercayaan).

Di jaman sekarang, Sedulur Sikep aktif memperjuangkan keadilan lingkungan hidup. Mereka menolak eksploitasi alam sekali pun dalihnya adalah kemajuan ekonomi. Mereka tetap setia pada kearifan lokal bahwa alam juga berhak mendapatkan perlakuan yang adil. Itu sebabnya, banyak aksi-aksi berani yang mereka lakukan untuk menjaga alam, misalnya menolak pabrik semen di Gunung Kendeng.

Dari pertemuan itu, para romo rukun Pati belajar artinya budaya adil sesuai konteks jaman. Keadilan itu tidak lekang oleh waktu. Bentuk perjuangannya bisa saja berbeda. Akan tetapi, nilainya tetaplah sama yaitu keadilan bagi sesama manusia dan semesta. Selain berbicara tentang perjuangan keadilan, dalam pertemuan itu juga dibahas mengenai penghayatan iman, praktik ritual perkawinan, serta bagaimana Sedulur Sikep berhadapan dengan modernisme.

Menjelang akhir pertemuan, anak-anak Sedulur Sikep (sering disebut wiji kendeng) menampilkan keahlian mereka dalam memainkan gamelan. Meski tidak menjalani pendidikan formal, anak-anak itu sangat fasih bermain gamelan. Keselarasan menabuh gamelan seolah menceritakan keselarasan hidup dengan berbuat baik kepada sesama dan alam.

Views: 32

Bagikan...

Leave a Reply

Bagikan

Translate »