Mon. Sep 16th, 2019

Misafajava

Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF)

Konflik Dan Persoalan Sabath

Lentera Keluarga
Tahun C-1. Pekan Biasa XXII
Sabtu, 07 September 2019
Konflik Dan Persoalan Sabath
Bacaan: Kol 1:21-23; Mzm 54:3-4.6.8; Luk 6:1-5. 

Renungan:
Perbedaan pandangan dan konflk antara Yesus dengan orang farisi juga menyangkut peraturan mengenai hari Sabath, yang dipicu oleh tindakan para murid yang memetik gandum, menggisar dan memakannya. Perbuatan para murid itu dapat dihalalkan sebagaimana dicantumkan dalam Ul 23:24,25. Walaupun demikian, Yesus justru memberikan contoh pelanggaran hari Sabath yang dilakukan oleh Daud tetapi dibenarkan. Sampai Yesus mengungkapkan diriNya sebagai “The Ruler of rules”.  
Kisah diatas lebih konflik bukan karena “perkara” tetapi karena sikap memusuhi yang menyuramkan pikiran, emosi dan hati. Apapun yang diperbuat Yesus dan muridNya diviralkan, dicari sisi buruknya, membawa opini dan akhirnya mempersalahkan. 
Relasi seperti ini juga terjadi dalam hidup kepasutrian, keluarga dan komunitas hidup imam-religius. Kita bisa berada di salah satu pihak, entah dimusuhi atau memusuhi, atau kedua-keduanya saling bermusuhan. Konflik itu lebih besar dan heboh daripada persoalannya. Barang-barang sepele atau yang tidak mendasar dijadikan “trigger” munculnya konflik. Melakukan atau tidak melakukan apapun salah dan tidak berkenan. Kunci utama mengatasinya terletak pada kejernihan dan kelurusan pikiran, penguasaan emosi dan kebaikan hati. Setidak-tidaknya, kita mempunyai maksud dan niat baik serta berusaha mencari cara yang terbaik.   Menjadi seperti Yesus memerlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengenal kebenaran yang lebih dari keyakinan pribadi, pengelolaan emosi, dan  ketulusan hati. 

Kontemplasi:
Gambarkan bagaimana Yesus menanggapi sikap orang farisi yang mencari-cari hal untuk mempersalahkan Yesus. 

Refleksi:
Apakah dalam setiap konflik dan persoalan aku mampu bersikap seperti Yesus? ataukah aku jatuh seperti sikap orang farisi? 

Doa: 
Ya Bapa, semoga hati kami selalu penuh dengan cinta kasih, perasaanku dipenuhi dengan kedamaian dan pikiran kami jernih dalam menghadapi setiap konflik dan persoalan dalam perkawinan dan komunitas kami. Ajar kami mempunyai hati seperti Yesus PuteraMu. Amin. 

Perutusan:
Renungkanlah kutipan ini “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Rm 12,2)
(Morist MSF)

Leave a Reply

%d bloggers like this: